Pengusaha di Kudus Diajak Jalankan Bisnis sesuai Syariat Islam

KUDUS, Lingkarjateng.id – Indonesia Islamic Business Forum (IIBF) menggelar pengajian bisnis ‘Wedangan Gusjigang’ dengan mengangkat tema penciptaan (creation) yang dihadiri lebih dari 200 pengusaha. Acara tersebut digelar di Resto Ulamsari, Kabupaten Kudus, baru-baru ini.

Ketua DPD IIBF Kabupaten Kudus, Muchammad Setiawan menjelaskan bahwa, IIBF merupakan suatu forum bisnis yang membantu pengusaha muslim bersaing dalam bidang bisnis secara gratis tanpa dipungut biaya.

“Kami akan bimbing, di IIBF semuanya gratis tidak bayar. Kalau pun berbayar ya, untuk keperluan mereka sendiri dalam menikmati fasilitas seperti seminar ini. Semua guru yang ada di sini berasal dari pengusaha, mereka adalah relawan dan tidak mau dibayar,” kata Ketua DPD IIBF Kabupaten Kudus, Muchammad Setiawan.

Lebih lanjut, pihaknya menyebut bahwa forum ini bukanlah lembaga pelatihan melainkan kumpulan teman-teman komunitas. Ia menambahkan, selain membagikan ilmu tentang bisnis dan wirausaha, IIBF juga menanamkan sifat kepemimpinan dan spiritualitas.

“Ada 3 yang ditawarkan IIBF yaitu leadership, entrepreneurship, dan spiritualitas. Kita kan di kaderisasi ada 2 hal yaitu di divisi penguatan dan di divisi pengembangan. Nah, acara ini termasuk di divisi pengembangan,” tambahnya.

Setiawan menyebut, pihaknya akan tetap berkomitmen untuk membina UMKM, pengusaha menengah hingga profesional di berbagai lini, dengan menyediakan program-program yang telah disusun.

Sementara itu, Ketua IIBF Kebumen sekaligus pembicara, Awam Malindo menyebutkan bahwa, di IIBF ini untuk meyakini pengusaha menjadi sukses perlu banyak hal yang dipersiapkan. Namun yang paling fundamental, tambahnya, dimulai dari hal yang paling kecil misalnya hubungan dengan keluarga.

“Pengusaha itu kan produknya keputusan. Jika ada masalah yang bisa mengganggu pikiran kita, nah itu yang kita benahi terlebih dahulu, tapi justru sering dilewatkan oleh banyak orang,” paparnya.

Materi yang disampaikannya kepada pengusaha di Kudus antara lain, bagaimana bermain seperti pebisnis kelas dunia, menjalankan bisnis sesuai syariat Islam yang harus jujur, amanat, dan juga profesional.

“Bisnis itu tidak boleh merusak keluarga, harusnya harmonis dan dijadikan prinsip. Jadi kalau keluarganya kuat, maka bisnisnya juga bisa kuat karena keluarga menjadi center of grafity dari sebuah bisnis,” tandasnya. (Lingkar Network | Ihza Fajar – Koran Lingkar)