Hadapi Pilgub Jateng, Sudaryono Sowan Kiai Ulil Albab Arwani di Kudus

KUDUS, Lingkarjateng.id Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Jawa Tengah Sudaryono, sowan di kediaman Kiai Ulil Albab Arwani yang merupakan pengasuh pesantren Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Kudus, Selasa, 28 Mei 2024.

Sudaryono didampingi sejumlah anggota Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Kabupaten Kudus menyampaikan bahwa kunjungannya ke salah satu tokoh agama itu dalam rangka silaturahmi. Pasalnya, Sudaryono yang akan maju Pilgub Jateng mengaku belum banyak berkenalan dengan tokoh-tokoh di Jawa Tengah.

“Di Kudus ini ada K.H. Albab yang dihormati dan disegani, beliau juga pengasuh pondok pesantren yang memiliki sejarah dan karismatik, sehingga niatnya ini ingin bersilaturahmi,” ujar Mas Dar, sapaan akrab Sudaryono. 

Selama sowan, Mas Dar juga berbincang mengenai hasil Pilpres 14 Februari 2024. Termasuk membahas program-program Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto selama menjadi Presiden RI. 

“Terkait Pilgub juga kita bahas, tapi tidak terlalu mendalam, menjurus ke mana itu belum,” ujarnya. 

Intens Jalin Komunikasi Politik, Sudaryono Cari Wakil Cagub Jateng yang Mau dan Mampu

Usai sowan, Mas Dar dan rombongan melanjutkan lawatannya bertemu para pedagang di Pasar Brayung, Kecamatan Mejobo.

Mas Dar yang juga Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) menyambangi sejumlah pedagang yang menerima manfaat program Warung Juang. Yakni program pinjaman bagi pedagang tanpa bunga dengan nominal mulai dari Rp500 ribu hingga Rp2 juta. Manfaat program tersebut dirasakan merata oleh para pedagang pasar beberapa tahun terakhir.

“Saya merasa bersyukur dan gembira sekali terhadap perkembangan ini. Banyak juga yang minta (Warung Juang) diteruskan dan ditambahi,” ungkapnya.

Mas Dar juga berdialog dengan sejumlah pedagang pasar. Bahkan ia sempat memborong dagangan para pedagang, hingga sarapan bersama di salah satu warung makan di pasar tersebut. 

“Warung makan di tengah pasar itu pasti enak. Kenapa, karena mereka bertahun-tahun jualan di tengah pasar dan terjamin enak,” tuturnya.

Dengan semua keunikan dan kelebihan yang ada di dalam pasar tradisional, Mas Dar menilai keputusan menggusur pasar tradisional bukanlah hal yang tepat. Ketika ingin menciptakan kawasan yang bersih, bukan dengan menggusur pasar, tapi dengan melakukan perbaikan. 

“Pasar itu kearifan lokal bangsa kita. Pasar di tengah kota harus diperbaiki, bukan digusur. Ada ribuan orang yang hidup dari perputaran uang yang ada di pasar. Jangan atas nama kebersihan, pekerjaan terhormat ini dianggap menjadi halangan atas nama kebersihan,” terangnya. (Lingkar Network | Nisa Hafizhotus. S – Lingkarjateng.id)